Artikel seputar pendidikan anak, tips parenting islami, cerita kegiatan siswa, dan wawasan madrasah.
MI Manba’ul Huda Sekaran merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pendidikan masyarakat Desa Sekaran, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro. Jauh sebelum resmi tercatat sebagai madrasah di Kementerian Agama, lembaga ini telah hadir sebagai tempat belajar masyarakat sejak tahun 1933.Perjalanan panjang tersebut tidak terlepas dari perjuangan K.H. Abdul Hannan bin K.H. Abdurrozaq, seorang ulama yang sepulang dari menuntut ilmu di Makkah Al-Mukarramah, Saudi Arabia, memiliki kepedulian besar terhadap kondisi pendidikan masyarakat di Desa Sekaran.Berawal dari Kepedulian terhadap Pendidikan MasyarakatPada masa tersebut, bangsa Indonesia masih berada dalam penjajahan Belanda. Di tengah kondisi tersebut, K.H. Abdul Hannan bin K.H. Abdurrozaq melihat bahwa masyarakat, khususnya anak-anak, sangat membutuhkan pendidikan.Dengan dukungan keluarga, para ulama setempat—di antaranya K.H. Dimiyati—serta setelah melalui pertimbangan dengan K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama, akhirnya didirikanlah sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama Madrasah Manba’ul Huda.Madrasah tersebut didirikan pada:Hari Sabtu Legi, 2 Shofar 1352 H / 27 Mei 1933 MSejak saat itulah perjalanan pendidikan Manba’ul Huda dimulai.Menggunakan Tradisi Pendidikan PesantrenPada masa awal berdirinya, Madrasah Manba’ul Huda merupakan lembaga pendidikan nonformal yang dikenal sebagai Madrasah Diniyah Manba’ul Huda.Dalam proses pembelajarannya, madrasah menggunakan adat pesantren sebagai salah satu ciri utama pendidikan. Namun demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada pendidikan keagamaan. Materi pelajaran umum juga tetap diberikan kepada para peserta didik.Seiring berjalannya waktu, keberadaan Madrasah Diniyah Manba’ul Huda semakin mendapat tempat di tengah masyarakat. Madrasah ini kemudian menjadi salah satu tempat belajar bagi masyarakat Desa Sekaran dan sekitarnya.Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sejak awal berdirinya, Manba’ul Huda telah berusaha memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada zamannya.Berubah Menjadi Madrasah Ibtidaiyah pada 1947Perubahan zaman dan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan formal mendorong adanya perkembangan kelembagaan.Setelah melalui perjalanan sebagai Madrasah Diniyah, pada 1 Oktober 1947 secara resmi lembaga ini berubah menjadi:Madrasah Ibtidaiyah Manba’ul HudaPerubahan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Manba’ul Huda. Lembaga yang sebelumnya berawal dari pendidikan nonformal kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan formal yang memberikan pendidikan dasar kepada masyarakat.Resmi Tercatat di Kementerian Agama pada 1960Perjalanan kelembagaan MI Manba’ul Huda kemudian semakin kuat dengan tercatatnya lembaga ini secara resmi di Kementerian Agama Republik Indonesia pada 1 April 1960 M.Dengan demikian, tahun 1960 bukanlah tahun awal berdirinya Manba’ul Huda, melainkan merupakan tahun ketika lembaga tersebut resmi tercatat di Kementerian Agama.Jika ditarik dari sejarah awal berdirinya pada tahun 1933, perjalanan pendidikan Manba’ul Huda telah berlangsung selama lebih dari sembilan dekade.Menjadi Bagian dari Lembaga Pendidikan Ma’arif NUKomitmen terhadap pendidikan dan tradisi keislaman terus dilanjutkan. Pada 1 Syawal 1387 H atau 2 Januari 1968 M, lembaga ini tercatat sebagai bagian dari Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU).Pencatatan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan kelembagaan Manba’ul Huda dalam mengembangkan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.Terus Mengabdi dari Generasi ke GenerasiDari sebuah lembaga pendidikan nonformal yang lahir dari kepedulian seorang ulama terhadap pendidikan anak-anak di tengah masa penjajahan, Manba’ul Huda terus mengalami perkembangan.Perubahan dari Madrasah Diniyah menjadi Madrasah Ibtidaiyah, pencatatan di Kementerian Agama, hingga menjadi bagian dari Lembaga Pendidikan Ma’arif NU merupakan bagian dari perjalanan panjang yang membentuk identitas MI Manba’ul Huda Sekaran hingga saat ini.Selama puluhan tahun, proses pendidikan terus berjalan dan lembaga ini tetap beroperasi untuk memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat.Kini, MI Manba’ul Huda Sekaran melanjutkan perjuangan pendidikan yang telah dimulai oleh para pendahulunya sejak tahun 1933. Semangat untuk memberikan pendidikan kepada generasi penerus terus menjadi bagian dari perjalanan madrasah.Dari 1933 hingga Hari IniSejarah MI Manba’ul Huda Sekaran bukan sekadar catatan mengenai tahun berdirinya sebuah lembaga. Di dalamnya terdapat kisah tentang perjuangan ulama, kepedulian terhadap pendidikan, dukungan masyarakat, serta komitmen untuk terus menjaga keberlangsungan pendidikan Islam.Dari sebuah madrasah yang lahir di tengah keterbatasan zaman, Manba’ul Huda terus tumbuh dan berkembang mengikuti perjalanan masyarakat.1933 — Madrasah Manba’ul Huda didirikan sebagai lembaga pendidikan nonformal.1947 — Madrasah Diniyah Manba’ul Huda resmi berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Manba’ul Huda.1960 — Resmi tercatat di Kementerian Agama Republik Indonesia.1968 — Tercatat sebagai Lembaga Pendidikan Ma’arif NU.Dan hingga hari ini, perjalanan tersebut terus berlanjut.“Menjaga warisan perjuangan, melanjutkan pendidikan untuk generasi masa depan.”Sumber sejarah: Keterangan tokoh, keluarga, dan Piagam Kelembagaan MI Manba’ul Huda Sekaran.
Sejarah
MI Manba’ul Huda Sekaran merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pendidikan masyarakat Desa Sekaran, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro. Jauh sebelum resmi tercatat sebagai madrasah di Kementerian Agama, lembaga ini telah hadir sebagai tempat belajar masyarakat sejak tahun 1933.Perjalanan panjang tersebut tidak terlepas dari perjuangan K.H. Abdul Hannan bin K.H. Abdurrozaq, seorang ulama yang sepulang dari menuntut ilmu di Makkah Al-Mukarramah, Saudi Arabia, memiliki kepedulian besar terhadap kondisi pendidikan masyarakat di Desa Sekaran.Berawal dari Kepedulian terhadap Pendidikan MasyarakatPada masa tersebut, bangsa Indonesia masih berada dalam penjajahan Belanda. Di tengah kondisi tersebut, K.H. Abdul Hannan bin K.H. Abdurrozaq melihat bahwa masyarakat, khususnya anak-anak, sangat membutuhkan pendidikan.Dengan dukungan keluarga, para ulama setempat—di antaranya K.H. Dimiyati—serta setelah melalui pertimbangan dengan K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama, akhirnya didirikanlah sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama Madrasah Manba’ul Huda.Madrasah tersebut didirikan pada:Hari Sabtu Legi, 2 Shofar 1352 H / 27 Mei 1933 MSejak saat itulah perjalanan pendidikan Manba’ul Huda dimulai.Menggunakan Tradisi Pendidikan PesantrenPada masa awal berdirinya, Madrasah Manba’ul Huda merupakan lembaga pendidikan nonformal yang dikenal sebagai Madrasah Diniyah Manba’ul Huda.Dalam proses pembelajarannya, madrasah menggunakan adat pesantren sebagai salah satu ciri utama pendidikan. Namun demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada pendidikan keagamaan. Materi pelajaran umum juga tetap diberikan kepada para peserta didik.Seiring berjalannya waktu, keberadaan Madrasah Diniyah Manba’ul Huda semakin mendapat tempat di tengah masyarakat. Madrasah ini kemudian menjadi salah satu tempat belajar bagi masyarakat Desa Sekaran dan sekitarnya.Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sejak awal berdirinya, Manba’ul Huda telah berusaha memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada zamannya.Berubah Menjadi Madrasah Ibtidaiyah pada 1947Perubahan zaman dan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan formal mendorong adanya perkembangan kelembagaan.Setelah melalui perjalanan sebagai Madrasah Diniyah, pada 1 Oktober 1947 secara resmi lembaga ini berubah menjadi:Madrasah Ibtidaiyah Manba’ul HudaPerubahan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Manba’ul Huda. Lembaga yang sebelumnya berawal dari pendidikan nonformal kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan formal yang memberikan pendidikan dasar kepada masyarakat.Resmi Tercatat di Kementerian Agama pada 1960Perjalanan kelembagaan MI Manba’ul Huda kemudian semakin kuat dengan tercatatnya lembaga ini secara resmi di Kementerian Agama Republik Indonesia pada 1 April 1960 M.Dengan demikian, tahun 1960 bukanlah tahun awal berdirinya Manba’ul Huda, melainkan merupakan tahun ketika lembaga tersebut resmi tercatat di Kementerian Agama.Jika ditarik dari sejarah awal berdirinya pada tahun 1933, perjalanan pendidikan Manba’ul Huda telah berlangsung selama lebih dari sembilan dekade.Menjadi Bagian dari Lembaga Pendidikan Ma’arif NUKomitmen terhadap pendidikan dan tradisi keislaman terus dilanjutkan. Pada 1 Syawal 1387 H atau 2 Januari 1968 M, lembaga ini tercatat sebagai bagian dari Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU).Pencatatan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan kelembagaan Manba’ul Huda dalam mengembangkan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.Terus Mengabdi dari Generasi ke GenerasiDari sebuah lembaga pendidikan nonformal yang lahir dari kepedulian seorang ulama terhadap pendidikan anak-anak di tengah masa penjajahan, Manba’ul Huda terus mengalami perkembangan.Perubahan dari Madrasah Diniyah menjadi Madrasah Ibtidaiyah, pencatatan di Kementerian Agama, hingga menjadi bagian dari Lembaga Pendidikan Ma’arif NU merupakan bagian dari perjalanan panjang yang membentuk identitas MI Manba’ul Huda Sekaran hingga saat ini.Selama puluhan tahun, proses pendidikan terus berjalan dan lembaga ini tetap beroperasi untuk memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat.Kini, MI Manba’ul Huda Sekaran melanjutkan perjuangan pendidikan yang telah dimulai oleh para pendahulunya sejak tahun 1933. Semangat untuk memberikan pendidikan kepada generasi penerus terus menjadi bagian dari perjalanan madrasah.Dari 1933 hingga Hari IniSejarah MI Manba’ul Huda Sekaran bukan sekadar catatan mengenai tahun berdirinya sebuah lembaga. Di dalamnya terdapat kisah tentang perjuangan ulama, kepedulian terhadap pendidikan, dukungan masyarakat, serta komitmen untuk terus menjaga keberlangsungan pendidikan Islam.Dari sebuah madrasah yang lahir di tengah keterbatasan zaman, Manba’ul Huda terus tumbuh dan berkembang mengikuti perjalanan masyarakat.1933 — Madrasah Manba’ul Huda didirikan sebagai lembaga pendidikan nonformal.1947 — Madrasah Diniyah Manba’ul Huda resmi berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Manba’ul Huda.1960 — Resmi tercatat di Kementerian Agama Republik Indonesia.1968 — Tercatat sebagai Lembaga Pendidikan Ma’arif NU.Dan hingga hari ini, perjalanan tersebut terus berlanjut.“Menjaga warisan perjuangan, melanjutkan pendidikan untuk generasi masa depan.”Sumber sejarah: Keterangan tokoh, keluarga, dan Piagam Kelembagaan MI Manba’ul Huda Sekaran.